Senin, 09 Januari 2023

 

MEWUJUDKAN FILOSOFI PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA PADA KONTEKS PENDIDIKAN ABAD  KE-21

Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara memiliki nama Soewardi Soerjaningrat lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Beliau merupakan putra keempat dari pasangan RM Soerjaningrat dan putra dari permaisuri Sri Paku Alam III. Ibunya seorang putri kraton pewaris Kadilangu, yang merupakan keturunan dari Sunan Kalijaga (Soewito, 1985). Ki Hadjar Dewantara saat masa kanak-kanak dan masa muda memiliki nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat, namun sesudah dalam masa pembuangan di Netherland gelar kebangsaannya tidak dipakai. Hal tersebut menandai bersatunya dengan rakyat yang diperjuangkan. Beliau pernah menjadi seorang politikus dan jurnalis puncak karirnya saat menjadi wartawan saat beliau menulis “Als ik eens Nederlander was” merupakan sebuah risalah yang terkenal berisi sindirin bagi pemerintah Hidia Belanda (Widodo, 2017).

Ki Hadjar Dewantara bertekad untuk meluaskan semangat tentang pendidikan kepada generasi muda. Upaya untuk mendidik kaum muda merupakan syarat utama dalam membebaskan diri dari jeratan penjajah. Pendidikan yang mendasarkan kebudayaan nasional dapat menghindarkan dari kebodohan. Pendidikan yang ada pada masa kolonial tidak mencerdaskan, melainkan mendidik manusia untuk tergantung pada nasib dan bersikap pasif. Keinginan untuk merdeka harus dimulai dengan mempersiapkan kaum bumi putra yang bebas, mandiri, dan pekerja keras. Sehingga generasi muda harus dipersiapkan agar kelak menjadi bangsa yang mandiiri, sadar akan kemerdekaan, sehingga kemerdekaan itu dimiliki oleh orang yang terdidik dan memiliki jiwa yang merdeka (Marihandono, 2017).

Bagi Ki Hadjar Dewantara, pendidikan itu memberikan dorongan terhadap perkembangan siswa didik, yakni pendidikan mengajarkan untuk mencapai suatu perubahan dan dapat bermanfaat di lingkungan masyarakat. Dalam hal ini, siswa didik diharapkan mampu memberikan manfaat untuk lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal ataupun untuk masyarakat luas. Selain itu, dengan pendidikan juga diharapkan memberikan peningkatan rasa percaya diri, mengembangkan potensi yang ada dalam diri karena selama ini pendidikan hanya dianggap sebagai sarana untuk mengembangkan aspek kecerdasan, namun tidak diimbangi dengan kecerdasan dalam bertingkah laku maupun dengan ketrampilan. Disisi lain, guru sebagai tokoh sentral dalam dunia pendidikan juga diharapkan mengutamakan murid di atas kepentingan pribadi. Menurut Ki Hadjar Dewantara, seorang guru juga diharapkan mampu mengembangkan metode yang sesuai dengan sistem pengajaran dan pendidikan, yaitu metode among, yakni  metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pola asih, asah, dan asuh. Guru diharapkan memiliki keterampilan dalam mengajar, memiliki keunggulan dalam berelasi dengan peserta didik maupun dengan anggota komunitas yang ada di sekolah, dan guru juga harus mampu berkomunikasi dengan orang tua murid dan memiliki sikap profesionalitas dalam menjalankan tugasnya.

Seorang pendidik juga diharapkan mampu mendidik peserta didik dengan memegang semboyan dari Ki Hadjar Dewantara yakni, ing ngarsa sung tuladha (dimuka memberi contoh), ing madya mangun karsa (di tengah membangun cita-cita), tut wuri handayani (mengikuti dan mendukungnya) (Haidar Musyafa, 2015). Hal yang paling utama dalam mendidik, yakni adanya pemahaman yang sama antara guru dan pendidik, sehingga mendidik bersifat “humanisasi”, yaitu mendidik merupakan sebuah proses memanusiakan manusia, dengan adanya sistem pendidikan diharapkan mampu mengangkat derajat hidup menuju perubahan yang lebih baik (Sugiarta, 2019). Selain hal tersebut, Ki Hadjar Dewantara memiliki dua pandangan tentang pendidikan. pertama, tri pusat pendidikan, yang mengatakan bahwa pendidikan yang diterima oleh peserta didik terjadi dalam tiga ruang lingkup, yakni: lingkungan keluarga, lingkungan perguruan, dan lingkungan masyarakat. Ketiga, lingkungan tersebut memiliki pengaruh edukatif dalam pembentukan kepribadian peserta didik. Kedua, sistem among, yaitu suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Sistem among menurut cara berlakunya disebut sistem “Tut Wuri Handayani” (Widodo, 2017).

Tiga semboyan Ki Hajar Dewantara, kita sebagai guru di masa abad 21 ini harus bisa menerapkan tiga semboyan ini yaitu:

  1. Ing ngarsa sung tuladha, di depan memberi contoh dan teladan. Sebagai seorang guru saya akan berusaha untuk memberikan contoh dalam sifat, perilaku, penampilan, tutur kata, dan sopan santun bagi anak didik saya.
  2. Ing madya mangun karsa, di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa. Sebagai seorang guru akan berusaha menciptakan dan membagun suasana pembelajarn yang aktif, kreatif, menyenangkan dan berpusat pada anak dengan mengkondisikan kelas dengan suanana yang nyaman untuk belajar demi berkembangnya potensi siswa sesuai dengan kodratnya. Melalui dukungan baik dari rekan sejawat, kepala sekolah, dan orang tua siswa serta pemanfaatan fasilitas baik pribadi maupun yang ada di sekolah akan coba saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan penggunaan berbagai macam metode, media, dan model pembelajaran yang berbasis lingkungan dan budaya lokal setempat untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi dan karakter anak menjadi lebih baik.
  3. Tut wuri handayani, di belakang memberi dorongan. Dengan refleksi diri pada semboyan tut wuri handayani ini maka sebagai seorang guru yang saya lakukan bukan hanya mentransfer pengetahuan saja tetapi juga mampu membangkitkan semangat siswa untuk terus belajar mencapai tujuan dan cita-citanya sesuai minat dan bakatnya.

Konsep Pembelajaran Abad 21 adalah membuat lulusan memiliki kompetensi dalam menguasai keterampilan berpikir, komunikasi yang kompleks dan menyelesaikan masalah yang sangat penting sesuai dengan kebutuhan dinamika global saat ini (Uminingtyas, Sukarmin,suryana, 2019) selain itu keterampilan kolaborasi dan kreatifitas juga dibutuhkan anak-anak muda untuk menghadapi kompleksnya perkembangan dunia yang pesat (Ark, 2019). Menurut widayat (2018), pendidikan abad 21 merupakan pendidikan yang mengintegrasikan antara kecakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta penguasaan terhadap teknologi informasi dan komunikasi.

Menurut Partnership for 21st century learning (P21) (2019), Penguasaan mata pelajaran utama dan tema abad ke-21 sangat penting untuk keberhasilan siswa. Mata pelajaran utama termasuk Bahasa Inggris, membaca, atau seni bahasa, bahasa dunia; seni; matematika, ekonomi; ilmu; geografi; sejarah; pemerintah; dan kewarganegaraan.

Selain itu, sekolah harus mempromosikan pemahaman tentang konten akademik di tingkat yang lebih tinggi dengan menenun Tema interdisipliner abad ke-21 menjadi mata pelajaran utama yang meliputi:

 • Kesadaran global

• Literasi Keuangan, Ekonomi, Bisnis, dan Kewirausahaan

• Literasi Masyarakat

 • Literatur kesehatan

• Literasi Lingkungan

Pendidikan abad 21 ini memerlukan keterampilan dunia nyata yang meliputi komunikasi, kolaborasi dan berfikir kritis.keterampilan ini dianggap krusial bagi manusia dari segi konteks, Negara dan budaya yang berbeda-beda untuk berinteraksi dalam jaringan tanpa batas dan dunia global (Teo, 2019). Partnership for 21st century learning (P21) (2019) juga menyebutkan bahwa Dalam konteks pembelajaran pengetahuan utama, siswa juga harus belajar keterampilan penting untuk sukses di dunia saat ini, seperti pemikiran kritis, penyelesaian masalah, komunikasi, dan kolaborasi.

Oleh sebab itu dalam mengimplementasikan pendidikan abad 21, mengajarkan siswa tentang apa yang dipelajari tidak lagi sesuai, melainkan siswa juga harus diajarkan bagaimana mempelajrinya. Terkait hal ini Kemendikbud pada tahun 2016 menyatakan beberapa prinsip pembelajaran yang digunakan pada pembelajaran abad 21 yaitu :

1.      Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;

2.      Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar;

3.      Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;

4.      Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;

5.      Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;

6.      Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;

7.      Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;

8.      Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);

9.      Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;

10.   Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);

11.  Pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di masyarakat;

12.  . Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas;

13.  Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan

14.  Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.

 

Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan.  Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu kepada peserta didik agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Jadi menurut KHD, “pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”.

Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab di sinilah letak humanisasi pendidikan yang berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat pendidikan yaitu memanusiawikan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar