MEWUJUDKAN
FILOSOFI PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA PADA KONTEKS PENDIDIKAN ABAD KE-21
Pendidikan menurut Ki
Hajar Dewantara
Ki
Hadjar Dewantara memiliki nama Soewardi Soerjaningrat lahir di Yogyakarta pada
2 Mei 1889. Beliau merupakan putra keempat dari pasangan RM Soerjaningrat dan
putra dari permaisuri Sri Paku Alam III. Ibunya seorang putri kraton pewaris
Kadilangu, yang merupakan keturunan dari Sunan Kalijaga (Soewito, 1985). Ki
Hadjar Dewantara saat masa kanak-kanak dan masa muda memiliki nama Raden Mas
Suwardi Suryaningrat, namun sesudah dalam masa pembuangan di Netherland gelar
kebangsaannya tidak dipakai. Hal tersebut menandai bersatunya dengan rakyat
yang diperjuangkan. Beliau pernah menjadi seorang politikus dan jurnalis puncak
karirnya saat menjadi wartawan saat beliau menulis “Als ik eens Nederlander
was” merupakan sebuah risalah yang terkenal berisi sindirin bagi pemerintah
Hidia Belanda (Widodo, 2017).
Ki
Hadjar Dewantara bertekad untuk meluaskan semangat tentang pendidikan kepada
generasi muda. Upaya untuk mendidik kaum muda merupakan syarat utama dalam
membebaskan diri dari jeratan penjajah. Pendidikan yang mendasarkan kebudayaan
nasional dapat menghindarkan dari kebodohan. Pendidikan yang ada pada masa
kolonial tidak mencerdaskan, melainkan mendidik manusia untuk tergantung pada
nasib dan bersikap pasif. Keinginan untuk merdeka harus dimulai dengan
mempersiapkan kaum bumi putra yang bebas, mandiri, dan pekerja keras. Sehingga
generasi muda harus dipersiapkan agar kelak menjadi bangsa yang mandiiri, sadar
akan kemerdekaan, sehingga kemerdekaan itu dimiliki oleh orang yang terdidik
dan memiliki jiwa yang merdeka (Marihandono, 2017).
Bagi
Ki Hadjar Dewantara, pendidikan itu memberikan dorongan terhadap perkembangan
siswa didik, yakni pendidikan mengajarkan untuk mencapai suatu perubahan dan
dapat bermanfaat di lingkungan masyarakat. Dalam hal ini, siswa didik diharapkan
mampu memberikan manfaat untuk lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal
ataupun untuk masyarakat luas. Selain itu, dengan pendidikan juga diharapkan
memberikan peningkatan rasa percaya diri, mengembangkan potensi yang ada dalam
diri karena selama ini pendidikan hanya dianggap sebagai sarana untuk
mengembangkan aspek kecerdasan, namun tidak diimbangi dengan kecerdasan dalam
bertingkah laku maupun dengan ketrampilan. Disisi lain, guru sebagai tokoh
sentral dalam dunia pendidikan juga diharapkan mengutamakan murid di atas
kepentingan pribadi. Menurut Ki Hadjar Dewantara, seorang guru juga diharapkan
mampu mengembangkan metode yang sesuai dengan sistem pengajaran dan pendidikan,
yaitu metode among, yakni metode
pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pola asih, asah, dan asuh. Guru
diharapkan memiliki keterampilan dalam mengajar, memiliki keunggulan dalam
berelasi dengan peserta didik maupun dengan anggota komunitas yang ada di
sekolah, dan guru juga harus mampu berkomunikasi dengan orang tua murid dan
memiliki sikap profesionalitas dalam menjalankan tugasnya.
Seorang
pendidik juga diharapkan mampu mendidik peserta didik dengan memegang semboyan
dari Ki Hadjar Dewantara yakni, ing ngarsa sung tuladha (dimuka memberi
contoh), ing madya mangun karsa (di tengah membangun cita-cita), tut wuri
handayani (mengikuti dan mendukungnya) (Haidar Musyafa, 2015). Hal yang paling
utama dalam mendidik, yakni adanya pemahaman yang sama antara guru dan
pendidik, sehingga mendidik bersifat “humanisasi”, yaitu mendidik merupakan
sebuah proses memanusiakan manusia, dengan adanya sistem pendidikan diharapkan
mampu mengangkat derajat hidup menuju perubahan yang lebih baik (Sugiarta,
2019). Selain hal tersebut, Ki Hadjar Dewantara memiliki dua pandangan tentang
pendidikan. pertama, tri pusat pendidikan, yang mengatakan bahwa pendidikan
yang diterima oleh peserta didik terjadi dalam tiga ruang lingkup, yakni:
lingkungan keluarga, lingkungan perguruan, dan lingkungan masyarakat. Ketiga,
lingkungan tersebut memiliki pengaruh edukatif dalam pembentukan kepribadian
peserta didik. Kedua, sistem among, yaitu suatu sistem pendidikan yang berjiwa
kekeluargaan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Sistem among menurut cara
berlakunya disebut sistem “Tut Wuri Handayani” (Widodo, 2017).
Tiga semboyan Ki Hajar Dewantara, kita sebagai guru di
masa abad 21 ini harus bisa menerapkan tiga semboyan ini yaitu:
- Ing ngarsa sung tuladha, di depan memberi contoh dan
teladan. Sebagai seorang guru saya akan berusaha untuk memberikan contoh
dalam sifat, perilaku, penampilan, tutur kata, dan sopan santun bagi anak
didik saya.
- Ing madya mangun karsa, di tengah menciptakan peluang
untuk berprakarsa. Sebagai seorang guru akan berusaha menciptakan dan
membagun suasana pembelajarn yang aktif, kreatif, menyenangkan dan
berpusat pada anak dengan mengkondisikan kelas dengan suanana yang nyaman
untuk belajar demi berkembangnya potensi siswa sesuai dengan kodratnya.
Melalui dukungan baik dari rekan sejawat, kepala sekolah, dan orang tua
siswa serta pemanfaatan fasilitas baik pribadi maupun yang ada di sekolah
akan coba saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan penggunaan berbagai
macam metode, media, dan model pembelajaran yang berbasis lingkungan dan
budaya lokal setempat untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi dan
karakter anak menjadi lebih baik.
- Tut wuri handayani, di belakang memberi dorongan.
Dengan refleksi diri pada semboyan tut wuri handayani ini maka sebagai
seorang guru yang saya lakukan bukan hanya mentransfer pengetahuan saja
tetapi juga mampu membangkitkan semangat siswa untuk terus belajar
mencapai tujuan dan cita-citanya sesuai minat dan bakatnya.
Konsep
Pembelajaran Abad 21 adalah membuat lulusan memiliki kompetensi dalam menguasai
keterampilan berpikir, komunikasi yang kompleks dan menyelesaikan masalah yang
sangat penting sesuai dengan kebutuhan dinamika global saat ini (Uminingtyas,
Sukarmin,suryana, 2019) selain itu keterampilan kolaborasi dan kreatifitas juga
dibutuhkan anak-anak muda untuk menghadapi kompleksnya perkembangan dunia yang
pesat (Ark, 2019). Menurut widayat (2018), pendidikan abad 21 merupakan
pendidikan yang mengintegrasikan antara kecakapan pengetahuan, keterampilan dan
sikap serta penguasaan terhadap teknologi informasi dan komunikasi.
Menurut
Partnership for 21st century learning (P21) (2019), Penguasaan mata pelajaran
utama dan tema abad ke-21 sangat penting untuk keberhasilan siswa. Mata
pelajaran utama termasuk Bahasa Inggris, membaca, atau seni bahasa, bahasa
dunia; seni; matematika, ekonomi; ilmu; geografi; sejarah; pemerintah; dan
kewarganegaraan.
Selain
itu, sekolah harus mempromosikan pemahaman tentang konten akademik di tingkat
yang lebih tinggi dengan menenun Tema interdisipliner abad ke-21 menjadi mata
pelajaran utama yang meliputi:
• Kesadaran global
•
Literasi Keuangan, Ekonomi, Bisnis, dan Kewirausahaan
•
Literasi Masyarakat
• Literatur kesehatan
•
Literasi Lingkungan
Pendidikan
abad 21 ini memerlukan keterampilan dunia nyata yang meliputi komunikasi,
kolaborasi dan berfikir kritis.keterampilan ini dianggap krusial bagi manusia
dari segi konteks, Negara dan budaya yang berbeda-beda untuk berinteraksi dalam
jaringan tanpa batas dan dunia global (Teo, 2019). Partnership for 21st century
learning (P21) (2019) juga menyebutkan bahwa Dalam konteks pembelajaran
pengetahuan utama, siswa juga harus belajar keterampilan penting untuk sukses
di dunia saat ini, seperti pemikiran kritis, penyelesaian masalah, komunikasi,
dan kolaborasi.
Oleh
sebab itu dalam mengimplementasikan pendidikan abad 21, mengajarkan siswa
tentang apa yang dipelajari tidak lagi sesuai, melainkan siswa juga harus
diajarkan bagaimana mempelajrinya. Terkait hal ini Kemendikbud pada tahun 2016
menyatakan beberapa prinsip pembelajaran yang digunakan pada pembelajaran abad
21 yaitu :
1. Dari peserta didik
diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;
2. Dari guru sebagai
satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar;
3. Dari pendekatan
tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;
4. Dari pembelajaran
berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
5. Dari pembelajaran
parsial menuju pembelajaran terpadu;
6. Dari pembelajaran
yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang
kebenarannya multi dimensi;
7. Dari pembelajaran
verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
8. Peningkatan dan
keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental
(softskills);
9. Pembelajaran yang
mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar
sepanjang hayat;
10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai
dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo
mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran
(tut wuri handayani);
11. Pembelajaran yang
berlangsung di rumah di sekolah, dan di masyarakat;
12. . Pembelajaran
yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta
didik, dan di mana saja adalah kelas;
13. Pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
pembelajaran; dan
14. Pengakuan atas
perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.
Ki Hadjar Dewantara
(KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan
Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari
Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu kepada
peserta didik agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota
masyarakat.
Jadi menurut KHD,
“pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk
segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup
berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”.
Menurut Ki Hajar
Dewantara tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab di sinilah letak
humanisasi pendidikan yang berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir
dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala
kekuatan kodrat pendidikan yaitu memanusiawikan manusia.